Senin, 23 Januari 2012

Dakwah ke Tasikmalaya dan Majalaya I

Hi!

Hmmm....apa kabar semua?

Hmmm...gw baru nyadar ternyata udah 6 bulan nggak update blog. Lah kayaknya baru kemaren gw update. Sumpah! Gw ingetnya kemaren. Tapi ternyata udah 6 bulan aja. Hmm...tanda-tanda kiamat ini. 1 hari jadi berasa 6 bulan. Jadi salahkan alam ya. Jangan salahin gw. Hmmm..pantesan gw bingung. Kok si Uda Rofi manggil gw "stupid letter" (judul postingan terakhir). Kemaren pas gw ketawa ngakak gara-gara dia ngelucu, dia ngebentak, "Eh Stupid Letter! ketawa muluk lu. Update itu blog". Gw kan mikir...hmmm...kok dia udah baca ya postingan gw. Perasaan baru kemaren gw publish. Hmmm....ternyata dia bosen. Udah 6 bulan, tiap buka blog gw, isinya stupid letter muluk.

Hmmm...terus gw baru nyadar kalau sepanjang tahun 2011, gw cuma posting 2 artikel. Berarti 6 bulan sekali. Gw jadi mikir, ini blog apa UAS. Kok 6 bulan sekali. Hmmm...kurang lucu ya. Ulangi deh. Gw jadi mikir, ini blog apa UTS ganjil. Kok 6 bulan sekali. Hmmm...kok makin nggak lucu ya. Ya udah lah. Harap maklum. Kan baru mulai nulis lagi ya.

Hmmm....lagian pas nulis ini, gw mabok ifumie. Gw makan ifumie terus beberapa hari ini. Kata Dokter, ifumie dapat memicu syaraf kegaringan yang terletak pada ujung puting payudara untuk bekerja lebih aktif. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hmmm... begini. Mie yang keras pada ifumie, membuat kita menggerakkan sendok dan garpu lebih aktif. Karena gerakan aktif itu, tanpa sengaja ujung sendok dan garpu, menyentuh dan menggesek-gesek ujung puting kita yang di dalamnya terletak syaraf-syaraf kegaringan. Gesekan inilah yang memicu syaraf kegaringan menjadi lebih aktif bekerja.

Lalu apa gejalanya? Hmmm....Menurut dokter, gejala yang utama adalah tentu saja, kita tidak bisa membuat pembaca tertawa karena kita menjadi garing. Tulisan yang sejatinya dibuat untuk mengocok perut pembaca, malah mengocok bagian lainnya (Ya karena pembaca kecewa, lalu beralih membaca situs porno. Inilah yang dimaksud tulisan kita, secara tidak langsung, ikut mengocok bagian lainnya). Hmmm...lalu apa gejala lainnya? Gejala lainnya adalah, tulisan kita mengandung banyak sekali "hmmmm". Hmmm......

Nah, berdasarkan penjalasan ilmiah tadi, sudilah kiranya Roiders semua memaafkan idolamu ini bila ternyata postingan kali ini garing sekali (sstt..sstt..perasaan si Roid ini tiap nulis selalu minta maaf. Dia blogger apa Mpok Minah? Aduuuh...kita juga garing ya sebagai pembaca. Maafkan kita ya, Pembacanya Pembaca).

Jadi, postingan kali ini merupakan seri kedua dari kisah perjalanan gw mengelilingi dunia. Yang seri pertamanya mana? Yang seri pertamanya waktu gw ke Bandung. Jadi seri kedua ini adalah ke......Tasikmalaya. Ya memang masih jauh sekali sih dari judul ambisius "MENGELILINGI DUNIA". Kalau kita ibaratkan perjalanan keliling dunia ini sebagai perjalanan ke sekolah, perjalanan gw ini masih dalam tahap gw membuka mata kiri ketika bangun tidur. Seri pertamanya (ke Bandung) ibaratnya gw membuka mata kanan. (Ya kali Id, ada orang bangun tidur mengerling gitu kayak Elvi Sukaesih. Buka matanya gantian. Ya tapi seenggak-enggaknya lu mengikuti sunah Rasul. Buka mata kanan duluan).

Terus gimana ceritanya bisa travel ke Tasikmalaya? Jadi ceritanya gini, Desember kemarin ada promo dari maskapai penerbangan low cost, sebut saja Mawar. Karena kita udah lama nggak traveling, akhirnya gw dan Banu memberanikan diri untuk membeli tiket Jakarta-Babakan (Babakan adalah ibukota Tasikmalaya). Tapi ibarat orang mabuk nikah di Las Vegas, keputusan ini amatlah sangat prematur. Kita nggak survei dan googling dulu. Emang kenapa Id kalau googling dulu? Ya gapapa. Soalnya googling itu udah kayak bismillah sebelum makan sih ya. Lu mungkin nggak keselek kalo nggak baca bismillah, tapi rasanya nggak afdol aja kalo nggak diucap. Btw, analoginya bisa diganti sih. Bismillah dengan "Bismillahi Allahuma Jannibnasy syaithana wajannibisy-syaithana maa razaqtanaa" dan makan dengan "berhubungan badan dengan istri sendiri". Ya mungkin kalo nggak baca doa sebelum bercampur, istri kita nggak akan keselek, ya tapi nggak afdol dan syah aja rasanya.

Eh, berhubung Tasikmalaya ini kota yang cukup agamis, maka perkenankanlah aku menggunakan kata "aku" untuk menyebut diriku sendiri. Lagipula tujuan perjalanan kami kali ini berbeda dengan perjalanan kami sebelumnya ke Bandung yang hanya bertujuan untuk mereguk kenikmatan duniawi. Tujuan perjalanan kami kali ini adalah murni untuk berdakwah. Makanya, agak sedikit ada ketakutan di hati ini. Takut iman kami goyah dan tidak kuat demi melihat godaan waria-waria di Babakan. Tapi mudah-mudahan, tiang agama selalu menyertai kami. (Roiders kasak-kusuk, "ssst..ssstt..ngapain tiang agama menyertai mereka. Maksud kalimatnya nggak jelas banget. Bodoh sekali blog ini ya")

Btw, ini pertama kalinya aku menaiki Mawar. Ternyata, Mawar cukup suka bergoyang ya. Biasanya, kalau sedang menaiki, aku tidak suka yang aku naiki terlalu banyak bergoyang. Nah, si Mawar ini kerap bergoyang. Ya walaupun mungkin karena cuaca waktu itu mendukung juga sih, makanya goyangan Mawar semakin hebat. Aku sampai lemas dibuatnya. Apalagi Banu. Tak henti-hentinyanya (idih. Typo. Tapi lucu juga ya. Nyanya. Nggak usah dihapus deh) dia mengucap doa ketika Mawar menggoyangnya dengan hebat. Maka begitu pilot memberi pengumuman bahwa pesawat akan mendarat, serentak kami berdua menyebut asma Allah. Kami heran, orang-orang lain yang menaiki Mawar, tak ada yang membalas sahutan adzan sang pilot. (Oh...bukan ya. Maaf, Roiders. Karena tujuan perjalanan kali ini berdakwah, maka setiap ucapan yang melalui gendang telinga kami, terdengar seperti adzan). Tapi walaupun si Mawar ini sering bergoyang dan tidak menyuapi kami makanan, overall okelah. Ada harga ada rupa memang. At least, si Mawar ini nggak telat. Jadi nggak ada yang harus minta pertanggungjawaban.

Begitu sampai di Bandara Suvarnabhumi Babakan, bibir kami lagi-lagi tak berhenti mengucapkan nama Tuhan karena begitu terkesima akan indahnya bandara internasional tersebut. Pokoknya kata-kata indah selalu terucap dari bibir kami, contohnya seperti , "Anjing, bagus banget!" (Bukankah anjing adalah makhluk ciptaan Tuhan? Bukankah semua makhluk ciptaan Tuhan sempurna?).

Setelah selesai berurusan dengan imigrasi, kami pun tak sabar untuk segera beribadah...yaitu senyum di depan kamera. Dan syukur alhamdulilah, dakwah kami langsung berhasil. Kami melihat beberapa umat di sana juga langsung beribadah...senyum juga di depan kamera masing-masing.


Tak sabar ke tempat pengecekan paspor karena ini pengecekan paspor pertama kami.
Ternyata pengecekan paspor itu rasanya seperti fish spa...tik tok..tik tok..
*Roiders menunggu penjelasan logis* *Yang tentu saja tidak mereka dapatkan*


Akhi Banu sudah tidak sabar melakukan ibadah. Senyumnya langsung
menyinari bandara yang fana ini.

Kami menemukan kesamaan antara Bandara Suvarnabhumi dan Soekarno Hatta,
yaitu ubin ke empat dari kaki kananku. Sama persis. Selebihnya tentu berbeda sekali.


*untuk gambar bandara Suvarnabhumi yang lebih representatif, silahkan googling, atau pergi langsung ke sana*

Untuk pilihan transportasi sendiri, sayangnya Suvarnabhumi masih kalah dari Soekarno Hatta. Bayangkan, di sana tidak ada Damri dan ojeg gelap! Aku suka ojeg gelap. Ada perasaan deg-deg ser ketika timbul keinginan terselubung agar si Abang memberhentikan motornya di semak-semak. Hih. Ngeselin banget. Di Suvarnabhumi adanya cuma taxi, bis, dan ini:

kereta yang nyamannya setengah mampus ini...
astaghfirullah..setengah wafat maksudnya....
tiketnya cuma sekitar 90an baht (37ribuan)

okay, enough the crap ya soal dakwah-dakwahan. Tambah banyak dosa gw ntar. Lanjut lagi soal transportasi dari Bangkok. Kereta ini yang gw lupa namanya apa (monorail apa sky train apa patpong panatrumpan. Gini nih kalo jangka waktu travel dan update blog kelamaan), menjadi pilihan kita karena simply, kita belum pernah naik kereta dari bandara. Turned out, it's very comfy ya. Cepet pula. Emang berapa lama Id perjalanannya? lupa. Terus harga tiketnya emang cuma segitu, 90 bath? lupa. Kita turun di Phaya Thai karena berdasarkan hasil googling, stasiun ini yang paling dekat dari tempat kita nginep. Eh...atau karena ini stasiun pemberhentian terakhir ya?

Btw, kita nginep di kawasan Khaosan Road. Kalo dari hasil googling sih, turis biasanya banyak nginep di Silom dan Khaosan Road. Gw milih Khaosan Road karena di sini memang kawasan turis asing yang kebanyakan backpackers. Kayak Poppies Lane di Kuta kali ya. Karena gw suka suasana Poppies, jadi gw ngerasa bakal suka juga sama Khaosan Road. Lagipula karena di sini banyak turis asing yang notabene belum mendapat hidayah, maka aktivitas dakwah kita juga bakal terbuka lebar. (lah...dia balik lagi).

Begitu tiba di Khaosan, langsung terasa excited tiada tara. Vibe-nya persis sama seperti waktu aku tiba di Kuta dulu. Ramai. Suara musik berdentum-dentum (walaupun aku lebih suka musik Hadad Alwi), bule berjalan hilir mudik, pedagang sibuk menawarkan barang. Coolness! Melihat pemandangan sedemikian, tak sabar rasanya menghampiri mereka lalu menuntun mereka mengucapkan dua kalimah syahadat (Janji. Ini terakhir kali si dakwah nongol).

Oh ya, karena kita nyampe Bangkok malem, kita terpaksa naik taxi dari Phaya Thai ke Khaosan Road. Kalo dari googling, banyak yang bilang taxi di Bangkok kurang bisa dipercaya. Menurut gw nggak juga. Beberapa kali naik taxi, mereka mau kok pasang argo meter walau tau kami turis. Langsung naik aja. Jangan pake acara tawar-tawaran dulu kayak bule yang nunggu taxi deket gw. Lah masa dia langsung ujug-ujug nawar, "kulo cuma punya duwek 1000 baht, kaaap. Panjenengan mau nganter ke Khaosan Road ora, kaaap?". Supir taxi: " swadikaaap, kun kaaap" *joget tradisional Thailand*. Yaiyalah mau. Orang ongkos normal kalo pake argo cuma 80 Baht. MENURUT NGANA??

Oke, balik lagi ke Khaosan Road. Setelah nyampe, agenda pertama kita adalah cari hotel. Hotel di Khaosan Road sangat bervariasi. Dari yang mahal, menengah, murah, murahan, bispak, sampe Ibabon (Isep bayar lem aibon). Awalnya kita sumringah sekali ketika pertama kali bertemu losmen yang tarifnya cuma 90ribu rupiah. Namun ketika dibawa ke kamarnya, ternyata kamarnya sangat sempit sekali. Cuma ada kipas angin, a King (of Daus Mini Land) Sized bed, sama lemari yang keciiiiil banget. Hmm...ini sih kamar tipe ibagus (isep bayar permen sugus). Dan nanya ke polisi soal alamat hotel yang udah gw googling sebelumnya juga nggak banyak membantu, karena i barely understand what they said. "Haaaa...you go de haaaa..kaaap..haaaa". Tapi setelah keliling lagi cari sana sini, akhirnya nemulah hotel yang pas di hati.


our humble yet comfy hotel, Rambutri House. Eh, gw baru nyadar.
Di sebagian besar foto kita, selalu ada Banu yang nyempil.

Two single beds and one single Banu

Moral of the story: Kalo nggak mau capek cari-cari hotel, booking dulu hotel lewat internet. But you will miss the opportunity to see and feel the amazing ambience of Kamar tipe ibagus. YA NGAPAIN KE THAILAND KALO NGGAK BISA LIAT KAMAR IBAGUS? LOE UDAH BOSEN IDUP KE THAILAND NGGAK NGUNJUNGIN TU KAMAR?HA? HA?


Setelah beristirahat sebentar (yaitu buka pintu, lempar tas ke ranjang, tempel muka ke tempat tidur sambil bilang, "aku beristirahat" lalu lari terbirit-birit ke luar), kita langsung lari ke jalan. Tak sabar mengeksplor Khaosan Road! And let the pictures do you:

Di Khaosan Road, semua ada. Bahkan sekarang ada....Banu.


Ada 711 dan.... Banu. Lagi.


Ibu-ibu penjual makanan khas Thailand, Pat Thai (fried noodle with shrimp) dan....yeah..you say the B word.


Ci luk Baaaa.......


Sorry, i have to eat you, dude. There's only one center of the attention. Kalo dua namanya biji.


AAARRRRGGGHHHH!!!!!


But i managed to save the journalism side of this article. And with these informative pictures, i prove you that you can find anything in this road.


Seperti yang kalian ketahui di atas, ada penjual gorengan serangga.


I don't know why we make a fuss over baso tikus. They eat these...for God's sake!


Di jalan sesempit ini, bahkan masih ada yang break dance.





Serta......................

















menari Saman.



Boong, Ding. Yang nari Saman nggak ada. Fotonya gw googling. *Roiders memutar bola mata*


Oke. Cukup sekian. Sampai ketemu di Dakwah ke Tasikmalaya dan Majalaya II. Peace, Love, and Suck My Tits, Habibie!

Minggu, 24 Juli 2011

A (Stupid) Letter for My Blog

Dear my dearest blog,

I know it's weird to write a letter for your own blog because i will end up look like someone who tries so hard to be creative but fall into cheesy land (You know, like those advertising guys who try to make a breakthrough ad but they ended up making a man said "tori tori cheese cracker" repetitively). But i take that risk because i don't know how to express this "i miss you" feeling other than write this letter.

And I don't know why i write this letter in english while english is not even my foster-mother-who-used-to-be-the-husband-of-my-foster-mother-so-he-technically-was-my-foster-father-but-damn-those-Lady-Gaga-songs-so-one-day-he-decided-to-make-me-having-two-mothers language. But writing it in:
1. Gue-elo way makes me feel like taking the crown of queen galay (galau alay) from @aurelhermansyah.

2. Aku-kamu way makes me feel like taking the crown of queen lalay (lagu alay) from @ananghermansyah

3. Ich-dich way makes me feel like taking the crown of queen jablay (jerman barat alay) from @heidiklumhermansyah

I don't want to take someone's crown moreover if it's from Hermansyah clan. So i guess writing it in english is the best choice though if english had levelness like keripik mak icih did, mine would be level 1. But i know it's okay because you hate spicy food. And language will never be our barrier.

My dear blog, i know it has been so long since i told you my story. I'm sorry to come this late. How am i? Hmm...my life is kinda flat. But life only gives me this sandal swallow yang-alas-karetnya-udah-aus so it is hard for me to walk on my life though it's flat. When rain comes, i always fall down. You know, job and stuffs. Things i don't like. They say i should push my self to learn it. But though you push it, how can a chicken sing like singing birds? How can a Syahrini* sing like Aretha Franklin?

dear my blog, sampe sini gw capek bahasa inggris. Iya. Ngepet emang itu bahasa. Diperlukan dimana-mana tapi gw nggak bisa-bisa. Kenapa sih gw nggak lahir di Perancis aja?


"lah emang di Perancis bahasanya inggris, Id?"

"ya enggak sih. Maksudnya gw lahir di sana terus kursus bahasa inggris di LIA sono"

"Ooo gitu...yuk, teman-teman, kita tinggalkan blog ini"

terus gw juga nggak mood sedih-sedihan lagi kayak di atas, my blog. Mood gw datar aja hari ini. Pasti kamu heran dech kenapa moodku bisa ganti cepat banget. Ya nggak usah heran sih. Soalnya aku udah nulis artikel surat-menyurat ini 2 bulan lamanya. Selama 2 bulan, aku bingung mau nulis apa lagi untuk ngelanjutin soal Syahrini di atas. Emang Syahrini ini selain bisa menyumbat mata pencaharian pedagang tas Manohara (karena konsumen beralih mencari tas Syahrini), juga mampu menyumbat kreativitas insan Illahi.


Sangkin datarnya mood gw hari ini, gw bahkan bakal menyampaikan satu berita besar ke kamu secara datar, my blog. Biasanya kan gw drama. Jadi sekarang kamu bayangkan aja kita berdua lagi di kantin makan mie ayam. Terus gw ngomong, "enak nih mie ayam di sini, My blog". Then you replied,"Iya. seumur hidupku aku belum pernah makan mie ayam". Terus gw ngomong lagi, "eh, tolong ambilin sambelnya dong my blog. Gw mutasi ke Jayapura lagi lho. Aduh. Gw makan sambel padahal lagi ambeyen".


Memberikan kabar kalo gw dimutasi ke Jayapura sambil minta diambilkan sambel. Sedatar itulah perasaan gw sekarang. Ya itu karena gw udah 2 minggu di sini sih, my blog. Jadi nggak se-shock waktu hari pertama. Ya masih sering nangis sih sambil memeluk brosur Inul Vista kalo malem. Tapi nggak sesering dulu. Bahkan gw nggak nangis lagi kalo liat spanduk, "Dirgahayu Distrik Depapre yang ke-XXI"! Pokoknya sekarang udah mulai terima keadaan lah.


Pokoknya banyak yang terjadi selama aku tidak pernah mencampurimu lagi, My blog. Banyaaak sekali. Yang so-called Roiders makin akrab di dunia maya dan dunia nyatalah, yang kita tahun baruan bareng, terus ke dufan bareng, lanjut lagi nginep di bandung bareng-bareng, terus gw travelling ke Bromo, terus Dorce nambahin namanya jadi Dorce Ketjepet Gamalama, terus Vidi Aldiano biji kirinya meledak, pokoknya banyaaaaak, My blog. And i will try to tell you all those stories letter, ya.



Hoahmm...(Penutup surat. Sok-sok ngantuk ala surat-menyurat ke sahabat pena zaman SD)...udah ngantuk nih, my blog. (Habis ini sok-sok capek nulis). Pegel juga ya nulis surat ini. (Terus izin tidur) Aku tidur dulu ya. (Ditutup dengan pantun). Empat kali empat sama dengan enam belas........oh shit. I'm not doing this again. Bubar...bubar!!



*Syahrini : thing that's saluted with white powder and fake-jewelleries-beli-di-Naughty. Alhamdulillah ya...hateable. So you don't need effort to hate it.





Jumat, 28 Januari 2011

PNS Travelling Guide Number Something but 1 (too Lazy to Count it)

Hai..apa kabar? baik? nggak kerasa ya udah seminggu nggak posting blog. Iya. Lama ya. Oke. Langsung ke ceritanya aja ya. Jadi seminggu yang lalu, tepatnya tanggal 23 Januari 2011, gw, Inul, dan Banu melancong ke kota dimana-semua-makanan-harus-ditambahi-keju-biar-laku-contohnya-singkong-goreng- keju-serabi-kuah-keju-they-even-got-keju-batangan-bertabur-keju-parut-dengan-garnish-keju-diatasnya-okay-not-yet-maybe-someday-right-Dede-Jusuf?



Kalo lu nebak kota itu Bogor, you better run to your mom, hug her and say, "mama...aku bodoh". Lagian ngapain juga gw posting perjalanan gw ke Kota Bogor di blog ini. Ingat, gw pria dewasa berumur 27 tahun! Ini blog serius! Nggak ada itu cerita tentang jalan-jalan. Haram di blog ini. Kalaupun ada cerita tentang jalan-jalan (or we,adult and pengusaha paket tour Pulau Tidung, call it "travelling") haruslah ke destinasi yang serius, bersejarah, dan dewasa seperti Byzantium di Roma, Taman Gantung di Babylonia, Alexis di Kota dan tentu saja... Bandung di hati Dede Jusuf! Udah bisa nebak kan kota yang gw maksud? Ya. kota yang gw maksud tadi adalah Kota Bandung. And i'm sure all of you my smart Roiders guessed it right (Hey...ngapain kamu lari ke ibu kamu, Morgan SM*SH?).



Ok, tarik nafas dulu dalem-dalem, Roiders. Paragraf berikut ini mungkin akan menguji intelejensiamu dan kemampuan nalarmu (baca: toleransi atas hal yang sangat garing dan batas kesabaran)

Jadi ceritanya sudah lama sekali kami,gw, Inul, dan Banu, tidak jalan bertiga saja. Terakhir itu waktu ke pulau pramuka kemaren. Yang mana sudah lama sekali. Foto-fotonya saja mendadak berubah jadi hitam putih semua (yeah, right). Ya..kalo cuma jalan-jalan bertiga ke mall terdekat nggak masuk hitungan ya. Yang gw maksud di sini adalah travelling, yang berarti;


travel: "berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang tidak terjangkau angkot C01 jurusan Ciledug-Senen atau berkunjung ke tempat yang, menurut akal sehat, tak akan bisa ditempuh oleh seorang penjual tape keli"


dan


ling: "ling"


Jadi travelling adalah berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang tidak terjangkau angkot C01 jurusan Ciledug-Senen atau berkunjung ke tempat yang, menurut akal sehat, tak akan bisa ditempuh oleh seorang penjual tape keliling. So that's why they don't use the word travel without ling because it means "berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang tidak terjangkau angkot C01 jurusan Ciledug-Senen atau berkunjung ke tempat yang, menurut akal sehat, tak akan bisa ditempuh oleh seorang penjual tape keli". Got it? Okay, run again to your mama, Morgan SM*SH.


Maka dari itu, setelah mencari-cari arti kata travelling tadi di Thesaurus Kaunangus, kami mantap menetapkan tujuan travelling kali ini haruslah yang lebih berbahaya, jarang dikunjungi orang, bersejarah, kalau bisa sekaligus wisata ziarah ke makam jahidah seperti Nike Ardilah. Pokoknya ke tempat yang harus lebih dari Pulau Pramuka (yg harusnya ditambahi Siaga karena sangkin gampangnya dibanding perjalanan kami ke tempat ini). Dan seperti yang kalian ketahui tadi, tempat tujuan kami, tak lain dan tak bukan adalah Kota Kembang, Bandung.


Oke. Udah cukup kali ya openingnya. Hihihi. Malu deh singkat banget. Sekarang lanjut ke cerita intinya ya, yaitu wisata sejarah dan ziarah di Bandung.



Btw, perjalanan ke Bandung sendiri dengan kereta sangatlah menakjubkan. Pemandangan sepanjang perjalanan, indah banget. Sawah, pohon, lembah, indah banget pokoknya. Tapi...ummm...keretanya agak spooky sih. Walaupun kereta eksekutif, tapi banyak kisah menyeramkan yang berhembus. Jadi, pastikan kalian mematuhi aturan berikut ini: ketika pandangan kalian dialihkan ke dalam kereta, kepala hanya boleh berputar 360 derajat mendatar dan ke bawah sehingga area pandang hanya berbentuk setengah bola.


Jangan, sekali lagi, jangan coba-coba menoleh 1 derajatpun ke area atas atau semua pemandangan indah yang kalian lihat di luar kereta akan menjadi mimpi buruk. Kenapa? ka..ka...karena dengan menoleh, walau hanya 1 derajat pun ke area atas, kalian akan melihat..OH MY GOD..menuliskannya pun gw nggak sanggup YA TUHAN...ini sangat menakutkan. Sebentar gw ambil dulu Quran kusam yang lembarannya sudah kusut karena sering sekali gw baca, di lemari.



"Tok..tok..tok. Mas punya Quran nggak? Iya, punya saya dipinjem temen. Pinjam bentar ya, Mas. Makasih ya"



Oke. Qur'an udah di tangan. Sebentar gw tarik nafas dulu. Oke. Pokoknya...Ya Allah...pokoknya, kalau liat sedikit ke atas...Lindungi kami,Tuhan....kalian akan melihat hal ini selama 2 jam perjalanan...gw bahkan masih inget wajahnya...YA TUHAAAAN....kalian akan melihaaaaatt......*teriak dengan satu nafas* VIDEO KLIP PINKAN MAMBO YANG JUDULNYA CINTAKU DI MUTILASI DI TV PLASMA KERETA!!!....*jatuh terkulai* *lemes* *mendekap Qur'an dengan erat* *tarik hembus nafas*. Pokoknya kalau kalian tidak mau trauma seperti gw, ikuti deh aturan tadi, Roiders. Bentar ya. Gw lemes banget.


Hah! Oke. Gw udah kuat. Maaf nambah lagi preambule postingannya. Tapi gapapalah. Pembukaan yang singkat tadi jadi sedikit lebih panjang dan tentu saja membuat postingan gw semakin fokus dan tidak bertele-tele. Lanjut ke cerita intinya ya, Roiders. Ini mungkin sedikit panjang. Gw bikin urutan-urutan aja ya ke mana saja kami berkunjung selama di Bandung. Simpan artikel ini baik-baik karena mungkin ini satu-satunya guide kalian dalam berwisata ke Bandung. Dikarenakan memang tempat ini masih sangat perawan. Gw bahkan yakin sekali kalau kalian googling "wisata ke Bandung", hasilnya pasti akan, "Laman ini tidak dapat memunculkan hasil pencarian. Apakah yang anda maksud 'Wiwit Salah Taroh Dada Jadinya Melendung?'



"SHUT THE FUCK UP ROID!!! JUST FINISH YOUR STORY OR I CUT YOUR BALL!!!", "Pinkan Mambo going crazy.



Jeez, Pinkan. Relax, lion hairy ball, eater!


1. Ziarah ke Gedung Sate

Gedung sate adalah kantor pemerintahan kota Bandung. Gw gak yakin ini kantor gubernur, bupati, camat, atau sekretaris desa. Tapi karena lambangnya sate, maka kemungkinan ini kantor Dharma Wanita, karena sate kan sarang te...ah..sudahlah.


Banyak sekali yang bisa dilakukan di depan gedung sate antara lain; berfoto bertiga, berfoto berdua, berfoto sendiri, berfoto bertiga tapi yang tadinya di tengah jadi di sebelah kiri, dan lain-lain.



2. Ziarah ke Batagor Kingsley

Di sini kalian bisa menabur bunga-bunga di makam batagor-batagor yang sedianya akan disemayamkan di perut pecintanya (oh, shoot me). Banyak sekali yang bisa dilakukan di batagor Kingsley, diantaranya makan batagor, minum, cuci tangan, bayar ke kasir, mendapat kembalian, mendapat struk, membacanya lalu berkata,"HAAAAHH?25 ribu sepiring? Ya enak sih tapi 25 ribu??", meremas struknya, dan membuangnya ke tempat sampah di depan muka penjualnya. Wow, so many things to do.



3. Ziarah ke Factory Outlet.

Factory Outlet adalah tempat menjual baju. Di sini kalian bisa membeli baju.



4. Ziarah ke Rumah Makan Kampung Daun.

Kampung Daun adalah rumah makan yang sangat terkenal di Bandung. Dikabarkan Obama sering makan di sana. Bahkan di sana terdapat patung Obama kecil dengan tulisan, "Bakso sangat enak sekali" (what a travelling guide this article is).


Tapi ingat, karena letaknya yang lumayan terpencil dan jauh dari pusat kota, diharapkan kalian membawa kendaraan sendiri. Tapi kalau kalian ingin mengalami kejadian lucu seperti kami, kami anjurkan untuk menaiki angkot saja. Beberapa kejadian lucu yang kami alami, antara lain:


- kebingungan dan akhirnya mampir di Batagor XXX yang ternyata sama mahalnya dengan batagor Kingsley. Kami rasa di Bandung ini, batagor itu semacam logam mulia yang ditambang.


- masih kebingungan mencari kendaraan dan akhirnya bertanya kepada penduduk lokal. Dalam kasus kami, penduduk lokalnya adalah seorang perempuan muda yang sedang hamil.


Kami: Mbak, mau ke Kampung Daun gimanah yah,caranyah? (dengan logat sunda yang dipaksakan)


Mbak Hamil: tinggal naik angkot itu a' atau bisa juga naik ojeg. Kalo naik angkot 3000 tapi kalo naik ojeg MAHAL BANGET.


Kami: Berapa memangnyah? *terjadi perdebatan batin* *pasti 30 ribu* *ah..sejuta pasti* *jantung berdegup kencang* *saling berpegang tangan* *memejamkan mata* *zikir* *istikharah* *gurah* Be..be..berapa memangnyah?


Mbak Hamil: lima ribu.


Kami: *muntah janin* *cepat-cepat mengucapkan makasih* *tak sabar balik badan dan menjauh* *ketawa terpingkal-pingkal*


5. Ziarah ke Rumah Strawberry Di sini banyak terdapat strawberry.



Demikian.




PS: Di bawah terdapat foto-foto kami, redaksi, selama berada di Bandung. Redaksi mengalami kesusahan mengatur foto-foto dikarenakan paket internet perusahaan kami yang hanya 50 ribu/bulan sehingga internet tidak mampu mengunggah foto lebih banyak,thus,redaksi merasa percuma mengatur foto sedemikian rupa. Pembaca sila menyusun sendiri foto-foto di bawah dan menebak-nebak di tempat mana kami sedang berziarah.


Senayan City: Artikel ini rencananya juga akan kami kirim ke National Geographic dan Lonely Planet. Doa pembaca sangat kami harapkan.




Minggu, 28 November 2010

Kadomasokis

Gw suka pusing kalo harus beli kado ke orang. Bingung, gelisah, resah campur jadi satu. Biasanya pertanyaan-pertanyaan berikut bakal muncul di benak gw yang konak: "Kadonya apa ya? entar dia suka apa nggak? Aduh, Mama bakal suka dan make kaos bertuliskan "My Pen is Huge" ini nggak ya ke kantor? Aduh, pengen banget ngasi pesawat jet ini ke Mama, dia pasti seneng, tapi kan budgetku nggak cukup. Aduh...kado apa ya yang kira-kira cocok dengan budgetku dan karakter Mamaku yang periang tapi tomboy?" Nebak apa yang orang pengen atau butuh atau suka plus dicocokin sama budget, pusing nggak lo?


Jadi waktu Siska posting di blognya, "kado-kado apa aja yang gw pengen elu kasih ke gw nanti kalo gw udah lahiran", gw seneng banget. Karena dengan begitu, kerjaan gw milih kado bakal mudah. Nggak bakal pusing-pusing kaya tadi. Apalagi di list Siska itu, ada termometer. Booo'...termometer. Gampang banget. Lingkungan gw akrab banget deh sama termometer. "Bu, beli Masako satu, ager ager 2 bungkus, gula jawa seperempat, termometer satu, sama Implantable Cardiac Defibrillators (ICDs) atau lebih dikenal dengan istilah alat pemicu jantung, satu setengah kilo ya,bu". Jadi, ahh..bye bye pusing-pusing-sebelum-masa-nifas-memilih-kado.



Tapi....ternyata Rumah Sakit Brengsek..i mean Bersalin (yaaaang...berengsek) tempat Siska melahirkan, dengan lancangnya telah memberi dia termometer digital, yang SEHARUSNYA...SEHARUSNYA jadi kado gw ke Siska, tanpa terlebih dahulu nanya pendapat gw. Di mana sih otak mereka? Apa mereka nggak baca dulu blog pasien-pasiennya? Apa sebelum Siska masuk ke RS itu sambil mengangkang kesakitan, mereka nggak bertanya dulu, "alamat blog Ibu apa?" Rumah Sakit apa yang tidak melakukan hal seperti itu?? Aneh! Akhirnya kan gw sendiri yang pusing, harus beli apa??

Diantara kebingungan memilih kado, pas lagi di Plaza Indonesia bareng Banu,Aaf dan Vio, iseng-iseng gw liat-liat Mother Care. Eh, lagi diskon semua bo'. Kebetulan deh. Dan setelah liat-liat kado, gw jatuh hati pada sofa-sofaan buat anak bayi ini:


Isn't it cute? Iya sih. Tapi harganya nggak cute sama sekali. Kalo gw berdua patungan sama Banu, mana mampu gw (Aaf sama Vio udah ngasi kado). Tambah Inul, masih agak mahal. Apa lacur? Akhirnya gw nelpon Gerandis di Papua biar dia ikut patungan. Dan akhirnya sofa itu kebeli! Yay! Senangnya. Siska sih pasti seneng-seneng aja. Apalagi kalo liat merk-nya. Makanya waktu mbak-mbaknya nanya, "mau dibungkus pake kertas kado ini *nunjukin kertas kado biasa* atau ini *kertas kado dengan merk Mother Care segede persoalan keluarga Arumi Bachin*?", gw pilih opsi kedua. Bungkus! Dan gw pun melangkah riang dengan plastik besar yang didalamnya terdapat kado mahal yang cantik dan cute dan....oke, yang dibeli dari hasil patungan 4 orang.

Setelah menunaikan semua kewajiban hedon malam itu, akhirnya gw, Banu, Vio dan Aaf pulang naik taxi. Tepat sebelum gw memasuki pintu taxi, Vio, sekali lagi Vio, ngomong, "eh...itu kadonya taro di Bagasi aja, gede banget". Dan gw yang nggak pernah naro barang di bagasi karena takut barang ketinggalan ini, akhirnya naro barang di Bagasi. *Roiders memutar bola mata ke kiri, yang artinya: ahhh..ketebak ini ceritanya, (kalo ke kanan artinya,"ceritanya ini ketebak..ahh)*....Eittsss...nanti dulu...pasti lu mikir kadonya bakal ketinggalan di taxi...terus ilang selamanya. Hahaha. Salah! Makanya baca dulu! Nggak seperti itu!



Setelah perjalanan sejauh argo 60ribu (mentalitas orang miskin,segalanya dinilai dengan uang), akhirnya kami sampai di kediaman masing-masing. Kami pun mengucapkan terimakasih kepada Pak Supir lalu pulang dengan hati riang *Roiders berbisik, "eh..eh..kado di bagasi belum di ambil". Lalu gw dan Banu pun seperti biasa berdiskusi dengan hati riang di depan gang:



Gw: "Bung..ingat hukum Pascal yang mengatakan," Bila zat cair pada ruang tertutup diberi tekanan, maka tekanan akan diteruskan ke segala arah"



Banu: "hahaha..becanda Bung Roid ini. Tentu saja saya ingat"



------Di sini Roiders lagi-lagi berbisik, "sstt..eh..eh..kadonya masih di bagasi---



Gw: 'Iya. Itu ternyata dasar utama sahabat kita, Bung Tjokorda Raka Sukawati menciptakan teknik Sosrobahu. Wah..wah..saya tak menyangka. Cerdas juga beliau itu"



Banu: *muka panik* Mas...kadonya ketinggalan



Gw: "Ya dan hukum paskal....uhuk *keselek Buku Fisika Terbitan Erlangga yang dari tadi dijadiin naskah percakapan*...anjriiiittt...kejaaaarrrr taxinya. YA ALLAAAAH. Gimana ini!!



------- Roiders memutar bola mata 360 derajat----------------



Akhirnya kita ngejar pake angkot, "bang..ayo bang cepet Bang...kejar taxi di depan Bang...ada barang yang ketinggalan. YA ALLAH...gimana ini. Udah jauh lagi taxinya. Gak keliatan. Alhamdulillaah. Itu bang ada gemerlap lampu taxi di depan. Kejar Bang".

Tapi malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Itu bukan taxi yang kita naiki tadi. Tu taxi udah lari entah kemana. Mungkin dia ngebut cepet-cepet begitu tau ada barang ketinggalan di bagasinya. Mungkin juga dia ngumpet di gang kaya jagoan menghindari kejaran polisi. Tapi yang pasti, kado buat Siska ada di situ. Hilang. Gak bakal balik ke kita. Hiks. Sedih banget.

Uang hilang sih gak masalah (Roiders memutar bola mata 90 derajat, "ya iyalah, patungan 4 orang") tapi kesenangan yang tadi kita rasakan karena sudah bisa membeli kado terbaik, jadi menguap. Yang ada kecewa. Lalu kita pulang ke kos dan kembali ke kamar masing-masing. Tetap sih, kita telpon perusahaan taxi itu, yang gak usahlah namanya kita kasih tau, pokoknya lawan kata Putri deh, tapi harapannya tipis lah kado itu bakal balik. Dan akhirnya malam itu kita tertidur sambil terisak-isak.



Roiders saling berbisik: "eh..eh..najis banget ya blogger ini. Maksudnya apa sih bilang barangnya gak bakal ketinggalan tadi? Biar terlihat beda ceritanya? Sok kreatif banget. Ih. Haram jadah deh. *Roider memutar bola mata 150 derajat*



Roid: Diam kamu pembaca yang kerjaannya memutar bola mata!





-------------------------- seminggu setelahnya---------------------------------





Gerandis ke Jakarta. Dan seperti biasa, kita maen bareng. Akhirnya kita iseng cari kado lagi ke Mother Care. Dan kado sofa-sofaan tadi masih ada dong di situ. Teronggok menantang. Bikin sakit hati. Dan harganya udah nggak diskon pula. Nggak mungkin banget beli itu lagi. Setelah milih-milih dan memberi contoh yang baik kepada anak-anak di toko mainan itu, salah satunya dengan cara seperti ini:


Vio maksa kita buat beli sofa itu lagi. Errr...mahal ya bo'. Tapi apa lacur? Kita telpon Kacrut di Surabaya, suruh dia ikut patungan. Yak. Dia mau. Sah! Sofa itu jadi kado kita lagi. (Roiders, kamu dapet faedah kan dari membaca blog ini. Salah satunya, kalau kekurangan uang patungan, tinggal telpon aja orang-orang di phonebook kamu. Iya..Sama-sama). Setelah minta lagi kertas kado bertuliskan Mother Care yang besar, akhirnya kita pulang dengan hati riang dan meletakkan lagi kado di dalam bagasi? Ah...tentu tidak Roiders. Kami kan bukan keledai. Lagipula, angkot mana punya bagasi. *Habis beli kado dua kali, ga ada duit buat bayar taxi lagi*

-------- di sini burung-burung bernyanyi, angin memainkan rambut hingga melambai-lambai dengan lembut. Mendekati Happy Ending---

Oh ya. Malam itu Gerandis, Inul, dan Nunu nginep di kamar gw dan Banu. Dan sebelum ke kos, kita mampir dulu di Indomaret membeli keperluan laki-laki. *Roiders berbisik-bisik,"eh..mana kadonya..pasti ketinggalan lagi..bego dasar ya"* Heiiii...aku dengar lho. Tenang. Ini kadonya! Taraaa *mengangkat kado ke arah langit-langit Indomaret*. Nggak mungkin dong kami lupa. Selain karena kami sudah belajar dari kesalahan, lagipula kami di sini berjumlah 5 orang! Masa nggak ada yang inget. Udah, ah...lanjut lagi cari keperluan laki-lakinya. *mengalihkan pandangan ke arah lelaki-lelaki yang sibuk memilih handuk warna-warni dan sempak, yang walaupun cuma satu merk GTman, tetep harus milih-milih*

Setelah selesai membeli keperluan laki-laki, kami pun pulang. Lalu membersihkan diri, bersiap untuk istirahat. Setelah semuanya selesai membersihkan diri, kita pun bersiap tidur dengan tenang. Tiba-tiba Nunu minta tetes mata ke gw. Karena gw bukan pemain sinetron, maka gw gak punya. Lalu dia pun pergi ke Indomaret. 15 menit kemudian dia kembali dengan membawa bungkusan besar. Yang ternyata bungkusan kado tadi, yang ternyata tertinggal di Indomaret tanpa satupun dari kita menyadari.

Sekian dan terimakasih.

*Roiders tidak diberi kesempatan untuk mencemooh*

Rabu, 10 November 2010

Postingan Baru di Blog Sebelah

http://reviewsexy.blogspot.com/2010/11/i-go-right-comedies-go-wrong.html

Kamis, 07 Oktober 2010

Tami from Tummy

Selasa malam, 5 Oktober 2010, seperti biasa gw bengong melototin timeline. Tiba-tiba ada tweet Siska:


Belum ada bukaan. Jadi masih belum pasti kontraksi ini mau lairan atau ada sebab lainnya. Doanya yah tweeps :)


What?? dia udah mau lahiran aja? Perasaan bulan ini baru 9 bulan deh. Cepet banget sih? Emang normalnya berapa bulan sih? Cepet-cepet gw cari buku biologi SMA gw. Dan hap! Langsung dapet. Emang biasanya gw naro buku biologi SMA di sebelah tempat tidur. Nggak bisa tidur gw kalo belum melafalkan nama-nama tulang di tubuh manusia. Oke. Cari di bagian reproduksi.Oke. Ini bagian reproduksi. Bolak-balik halaman. Cari di bagian kehamilan. Oke. Dapet. Cari di bagian jangka waktu kehamilan vertebrata. Oke Dapet. Bolak-balik. Reptilia. Bukan. Walaupun lidahnya setajam ular tapi Siska bukan reptil. Jelas. Next page. Primata. Oke. Oke. Nah..ini : "Masa kehamilan Gorila adalah 8-9 minggu". Shit. Berarti emang sekarang masa melahirkannya.


Keesokan paginya gw dan Vio menuju ke Rumah Sakit Sari Asih di kawasan art-chic di Manhattannya Indonesia, Kailedag (tulis: Ciledug). Tapi sebenernya kita tau keadaan Siska di sana dari twitter. Ya saudara-saudara. di tengah kesakitan yang sangat, orang ini masih sempat-sempatnya mengadakan live tweet. Ini contoh-contoh live tweetnya:


They moved me to the delivery room along with sepatu-boot-banjir, ember segede gaban... I guess this is gonna be veeery nasty folks...

Alhamdulillah, bukaan tigaaa... +eh masi lama ya sampe sepuluh?+

They just made me poop, and I managed to keep my miss-universe-smile while they shoved that thing in my ass. Wakakak...

Tweeps, maap ya kalo tar ga bisa reply atu2... Diantara kontraksi+livetweets tetep dibaca kok mention nya #sokarteis


Dan timeline gw jadi rusuh sama orang-orang yang nanya keadaannya dan nuntut dia buat live tweet. Ya mereka pikir ngelahirin itu cuma ngangkang terus a little cute crying doll keluar dari rahim terus habis itu si ibu tidur cantik dengan make-up yang terpasang sendiri dan rambut yang terblow secara ajaib kali ya. Gw kasih tau ya ke elo-elo semua *nunjuk laptop*, sebagai orang yang berada di lokasi kejadian, GUWE TAU BANGET (nunjuk dada, bayangkan cara ngomong Cinta ke Rangga, tp kali ini Cinta mempunyai jenggot dan cambang) kalo proses ngelahirin itu sakit .


Soalnya gw liat sendiri tampang Siska waktu sedang berjuang di ruang bersalin. GW LIAT SENDIRI. Betapa sakitnya dia berjuang. Mondar-mandir ruang bersalin. Tarik hembus nafas, berusaha mengurangi sakitnya kontraksi. Gw dan Vio yang mendampingi dengan setia (setia = gw maen hp di sudut ruangan sedang Vio meringkuk ketakutan ngeliat tampang Siska yang kaya singa betina lapar). Kami turut merasakan kesakitannya. Sedang Ficky (suami Siska) sebisa mungkin memenuhi permintaan Siska. Sedang gw sibuk merekam kejadian ini ke dalam memori gw. Gw bisa belajar dari adegan-adegan ini kalo nanti istri gw bakal ngelahirin:

1. Siska minta dianter ke kamar mandi, Ficky nganterin dan membantu jalan.

2. Siska minta tiduran, Ficky membantu menidurkan di sofa.

3. Siska minta panggil suster, Ficky manggil suster dengan tergopoh-gopoh.


Ya, adegan-adegan itulah yang nantinya harus gw contoh. Adegan-adegan itulah yang nantinya akan terjadi kalo istri gw bakal ngelahirin. Ya mungkin ada sedikit perbedaan, adegan2 yang dilakukan Siska, nanti gw yang akan melakukan. Adegan Ficky, istri gw yang lakuin.

Roid-yg-sedang-dalam-posisi-puncak-baik-dalam-keuangan-kesehatan-maupun-ketampanan : "Ma...Papa mau pipis. anterin. Takut"

Istri-Roid-yang-sedang-hamil-9-bulan-namun-sangat-mencintai-pangerannya-Roid-Taufan-

dan-Rela-Melakukan-Apa-Saja-Deminya:

(bangkit dari jongkok, kepala bayi sudah muncul) "iya Pa..sini mama papah"


---------- Penulis mati dijumroh pembaca wanita-------------


Tapi akhirnya, orang-orang di timeline itu ngerti juga kalo Siska gak bisa live-tweet setiap saat. Akhirnya mereka nyuruh kita buat live-tweet perkembangan Siska. HAH! Berarti memang cuma GW dan vio (why can't i make GW in font size 24 dan Vio in size 2?) yang jadi saksi kejadian penting ini. Tapi ya kita juga ga bisa di deket Siska terus-terusan. Dia kesakitan dan bilang sendiri kalo liat orang bawaannya pengen nyakar. Jadi setelah sekitar 10 menit di ruang bersalin, kita balik lagi ke kamar Siska. Ficky bilang kira-kira Siska bakal ngelahirin sekitar jam 3an. Berarti masih 3,5 jam lagi. Ya udah kita putuskan buat balik aja ke ruang inap Siska. Tapi tetep kita tweet kejadian-kejadian tadi: "siska udah bukaan 6. Kita balik lagi ke kamar karena tampang Siska menyeramkan,dll". Pokoknya kitalah harapan mereka untuk terus memantau perkembangan Siska. Jadi berasa mengadakan liputan khusus hari itu.


Sebagai pelengkap jurnalisme, foto sering digunakan oleh wartawan. Oleh karena itu, kita pun melengkapi liputan khusus Siska Beranak 2010 dengan foto-foto yang semakin mempertajam dan memperjelas isi liputan ini. Berikut foto-foto yang kita tweet (sebagian):


Ruang inap Siska. Tampak satu ranjang yang rapi dan terlihat nyaman untuk ditiduri

dengan kursi dan meja di dekatnya. (Redaksi ingin sekali menulis: Ruang inap Siska. Tampak

satu gelambir lemak yang menempel di perut dan terlihat nyaman bersarang di sana. Pemiliknya berusaha

menutupi dengan tangan, tapi tentu saja itu pekerjaan sia-sia)


Televisi 20" yang terletak di depan ranjang. Terdapat laci-laci kecil

yang bisa diisi Siska dengan perlengkapan-perlengkapan bayi. Foto ini redaksi rasa

cukup bagus karena fokus foto terletak pada televisi dan tidak ada objek-objek lain yang

mengganggu

Foto close up ranjang Siska. Ranjang terlihat nyaman dan bersih.

Foto ini redaksi rasa juga cukup bagus. Karena fokus pada objek utama, yaitu tempat tidur

dan menggambarkan betapa rapi dan teraturnya pengaturan seprai dan selimut.

Foto juga tidak terganggu oleh objek-objek lain.


Setelah puas melengkapi liputan kami dengan foto-foto, kami iseng-iseng balik lagi ke ruang persalinan. Padahal baru jam 12. Masih 3 jam lagi Siska beranak. Tapi daripada mati gaya di ruangan. Lagipula dua orang bukan muhrim yang berada dalam satu ruangan, pasti menimbulkan fitnah. Sempat kami lihat melalui teropong bintang dari jendela rumah sakit, Bu RT Vio di Malang mencibir.

Tapi begitu sampai di ruang bersalin, suster penjaga ruangan melarang kami masuk. "Loh, memangnya kenapa,Sus?". "Itu, anaknya baru lahir", jawab susternya ramah. "Dibersihin dulu ya, Ibunya". Lah? cepet banget brojolnya. Gw dan Vio langsung merasa tidak berguna. Kita malah sibuk berfoto-foto di dalam kamar Siska. Gak ada di sampingnya ketika dia berjuang melawan hidup dan mati. Kita juga mengecewakan orang-orang yang sudah berharap banyak. Bukannya ngetweet hal-hal berguna, kita malah ngetweet foto-foto menakutkan gw dan Vio. Tapi yah...sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Yang paling penting sekarang....Tami sudah datang!!! Yeaaaayyy!!!

Ajaib rasanya melihat si cantik yang sudah kita tunggu-tunggu kedatangannya akhirnya beneran dateng (tapi datengnya diem-diem ih, gak manggil-manggil Tante Vio dan Ibu Susu Roid dulu) Nah, ini dia si cantik Nembang Carita Gautami yang datang dari Mommy's Tummy...


Walaikumsalam cantik.....silahkan masuk ke dunia Mama, Papa, Om, dan Tante.......


Ini si cantik bersama Mamanya yang sedikit gendut dan sedang tidak cantik:


Dan ini si cantik bersama Mama dan Papanya. Si cantik memberikan senyum manis . Kecil-kecil udah bisa pose. Tampak selimut di belakang yang porak poranda seperti habis dipakai bercinta (redaksi berfikiran kotor dan tidak fokus)


Ah....selamat datang cantik di dunia kami. Untuk kamu, Om bikin puisi paling indah di dunia. Yang Om buat sendiri susah payah dengan darah, keringat dan air mata ikan duyung yang berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit. Ini untuk kamu cantik......


Hei..

Hei, mungil..

Ada pekak cinta paling bahana, dari tangismu yang pertama.
Kamu itu jawaban doa,
titipan Tuhan yang paling berharga.

Aku baru mengenalmu sedetik lalu,
dan cinta paling primitif bahkan telah menjalari kalbuku.
Kamu mengingatkan aku akan naluri ibu.
Kalikan sejuta, tidak tidak, semilyar, atau bahkan tak terhingga..
Itu cinta ibumu. :)
Ada refleks peluk untuk mengusir dingin yang menjalari pipimu.
Kalikan juga dengan bilangan tak hingga,
sebesar itu ayahmu ingin melindungimu.

Jadi, berhentilah menangis,
jadilah bayi paling bahagia di dunia.
Kamu dicintai sepenuh, sekuat hati.
sampai perih bahkan terasa sedikit di hati.

Mungil,hidup dan mencintalah.
menapak dunia dengan ratusan tanya, cerita, tangis, tawa, semuanya.
Bawakan kami kisah dari negeri surga, kisah paling hakiki yang dibisikanNya dalam bola mata kecilmu.

Selamat datang di dunia. :)



-----------> Ditabok pembuat puisi yang asli


Kamis, 02 September 2010

Flash Fiction (Bukan Merk Dildo)

Mungkin Flash fiction ini terdengar seperti merk semacam dildo yang bisa menyala kerlap-kerlip (kebayang kalo dipake,terus kerlap-kerlip di dalem,we have club in our dub..eh....mouth). Dengan nama yang begitu porno (tergantung otak yg mikir sih), ternyata Flash fiction ini kontes menulis cerpen sepanjang 350 kata yang dibuat oleh Ubud Writers Festival (Klik situsnya di sini.) Tadinya gw seneng aja baca-baca cerpen di situ. Eh, nggak juga sih. Kalo ada yang retweet link-nya di timeline gw doang, baru gw baca.

Nah, lagi pusing-pusingnya mikirin skripsi, si Kacrut maksa-maksa gw buat ikut kontes menulis cerpen itu. Langsung gw tolak mentah-mentah (kalo kontes Ratu Kebaya, gw pasti langsung mau). Tapi terus tiba-tiba Vio, terus Nora, terus Kacrut ikutan Kontulcembud (Kontes Menulis Cerpen Menulis Ubudwritersfestival----> menulis-nya diulang dua kali, kepanjangannya menjadi tak bermakna tak apa, yang penting singkatannya penuh makna) itu. Dan tulisan mereka bagus-bagus. Ya gw langsung penasaran dong. Gw bisa nggak buat gituan. Akhirnya gw nekat buat. Dan ini flash fiction gw.....


SANG PENULIS

“Ja..jangan”. Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir gadis itu. Setelahnya, tubuhnya menggelepar hebat. Sakit? Aku tak tahu. Yang jelas tubuhnya membiru, matanya membelalak, liukan-liukan vena yang terlihat seperti ratusan cacing yang merayap naik melawan gravitasi, terlihat jelas dari kulitnya. Ya kalian simpulkan saja sendiri,dia sedang kesakitan atau sedang menari kejang. Hihihi. Aku mengikik sendiri mendengar leluconku yang tak lucu.

Belum selesai kikikan kedua, si gadis sudah berdiri di hadapanku. Bibirnya menyungging senyum.”Hi, Viona”, ucapnya. “Hi, Siska”, jawabku. Lihat. Dia tahu namaku. Aku tahu namanya. Padahal semenit lalu kami berdua saling tak mengenal. Hal ini masih membuatku kagum. Bahkan di usiaku yang ke 105. Kami, para vampire,selalu tahu nama satu sama lain. Tiba-tiba. Caranya simple : Asing –> Bertemu –> Klik! –> Dua vampire kenal satu sama lain. Mengagumkan bukan?

“Aku lapar”,bisiknya. Perempuan ini. Baru semenit jadi vampire sudah lapar. “Oke,ayo kita cari makan di kantin”,kataku sambil tersenyum. “Kantin?”, tanyanya bingung. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Ku ajak dia ke bagian lebih dalam dari gudang tua ini. Sampai kami berdua tiba di satu tempat yang penuh tempat duduk dan etalase kaca. “Ini aku namakan kantin”,bisikku ke telinganya. “Kenapa?”,tanyanya. “Karena…di sini banyak makanan”, ucapku keras sambil melayang ke arah peti besar di sudut ruangan. Kubuka peti. “Kraaak”, deraknya bergema ke seluruh gudang. Lalu kuraih makanan.

Tanganku menyentuh makanan secara acak. Kuraih salah satu, kuangkat cepat dan kulempar ke arah Siska. “Ini saja buatmu.Tangkap!”. Siska menangkap dengan satu tangannya. Mendelik ke arah makanannya yang ternyata seorang gadis kecil. Air liurnya menetes, menjatuhi wajah sang gadis. Sang gadis menjerit-jerit ketakutan. Dan hap…dalam hitungan detik kepala sang gadis sudah terlepas dari tubuhnya, berpindah ke mulut Siska. Suara jeritan gadis kecil masih bergema. Kasihan. Dua bola mata bergulir, berhenti tepat di kakiku….


Arrggggh! Cerita yang buruk. Kuremas-remas kertas di tanganku. Mana mungkin ada hantu sekejam itu. Aku memang tak berbakat menulis. Tba-tiba perutku berbunyi. Lapar. Aku cari makan dulu saja. Segera aku lompat dari batang pohon yang sedari tadi aku duduki. Hap. Lalu kulempar remasan kertas. Wow..kertasnya tepat jatuh di atas kuburanku. Tinta darah menetes ke tanahnya yang basah. Aku melayang pergi.


Gimana? hihihihi *mengikik sendiri membaca flash fiction yang tak lucu*. Gw tau sih flash fictionnya nggak jelek-jelek amat, tapi nggak bagus juga. Tadinya gw sok-sok mau bikin dengan gaya bahasa Murakami yang sederhana tapi nyeleneh dan ajaib in a good way atau kaya JD.Salinger yang lebih sederhana lagi tapi sarkas cerdas, tapi jatohnya tetep gaya bahasa cerpen-cerpen Anita Cemerlang (efek menjadi anak tahun 90an yang besar bersama kakak sepupu cewek semua).


Terus flash fiction gw gak ada pesan moralnya. I know, untuk film, gw against sekali sama orang yang bilang film harus ada pesan moralnya. Film buat gw harus tidak boring. Titik. Soalnya durasinya lama. Males banget buang-buang waktu untuk sesuatu yg membosankan. Tapi untuk sebuah cerpen, yang cuma menghabiskan waktu semenit dua menit untuk dibaca, kayanya kalo ada pesannya (walaupun nggak harus eksplisit) akan lebih meninggalkan kesan yang dalam. The story will linger in readers' mind.


Kalo punya gw? so what? so what kalo penulisnya hantu?Pesannya apa? Jangan makan anak kecil? Terus sehabis membaca, pembaca melanjutkan lagi menggaruk-garuk pantat. Dunia resah karena penggaruk pantat masih berkeliaran. Kalo misalnya cerpen gw tentang pesan moral : bahaya menggaruk pantat, pastinya sehabis membaca cerpen gw, ada sesuatu yang menggerakkan pembaca. Syukur-syukur kalo ada pembaca yang menangis tersedu-sedu dan menyesali kenapa telah menggaruk pantat. "Tidaaaaakk, potong kedua lengan kotor ini", begitu mungkin teriak mereka ke mantri terdekat. Dan dunia akan damai tanpa penggaruk pantat. Cerpen jadi punya impact bagus.



Tapi masalah utamanya di pemilihan kata-kata yang standar sih. Gw akui itu. Ternyata nggak gampang bikin cerita. Padahal cuma cerita pendek gini. Gimana kalo cerita yang panjang, besar, bengkok terus ujungnya besar kaya jamur? Dan selama ini gw membodoh-bodohi penulis-penulis skenario itu di reviewsexy (blog review film gw, buat yang belum tau). Nyesel? Nggak juga sih. Filmnya emang bodoh sih. Hiihihi. Rugi banget udah bayar, ternyata filmnya bodoh.


Aaah...gw jadi meracau padahal nggak ada yang mengkitik-kitik. Kita akhiri saja omong kosong blog ini. Eh, btw, vote cerita gw di sini ya guys. Pokoknya vote. Nggak harus vote suka (jempol ke atas). Ada juga vote buat yang nggak suka ceritanya (jempol ke bawah). Nah, lu boleh juga kok vote jempol ke bawah, tapi vote itu buat cerita yang lain aja. Jangan cerita gw. Kalo bisa loe ganti-ganti PC. PC yang jaga warnet juga pinjem. Kalo perlu gadaikan keperawanan lu. Ada mbak-mbak lewat lu jambak, lu rebut BB-nya. Ada orang yang naik ke atas sutet buat bunuh diri, lu teriak, "heii...jangan bunuh diri dulu...vote dulu jempol ke bawah buat cerita selain cerita Roid!!". Pokoknya lakukan segala cara deh untuk mencapai keinginan gw. Ya?ya?ya? *pantesan flash fiction-nya nggak ada pesan moralnya, blognya tak bermoral gini*


PS : Eh, it's such a pleasure to me if u care to give critic to my flash fiction. Sweet, harsh, normal, misionaris, hardcore, sodomasochist, any kind of critic. Surprise me, babe. Hihihihi *mengikik kecil lalu berlari ke tempat tidur memakai lingerie*

PS Lagi : Ubud ternyata kalo dibalik jadi dubu ya?sinonimnya panta..wow..ga salah kan gw kalo aura nama Flash Fiction itu jadi seperti dildo *again,tergantung otak yang mikir, Roid Cabul!*