Jumat, 28 Januari 2011
PNS Travelling Guide Number Something but 1 (too Lazy to Count it)
Minggu, 28 November 2010
Kadomasokis

Isn't it cute? Iya sih. Tapi harganya nggak cute sama sekali. Kalo gw berdua patungan sama Banu, mana mampu gw (Aaf sama Vio udah ngasi kado). Tambah Inul, masih agak mahal. Apa lacur? Akhirnya gw nelpon Gerandis di Papua biar dia ikut patungan. Dan akhirnya sofa itu kebeli! Yay! Senangnya. Siska sih pasti seneng-seneng aja. Apalagi kalo liat merk-nya. Makanya waktu mbak-mbaknya nanya, "mau dibungkus pake kertas kado ini *nunjukin kertas kado biasa* atau ini *kertas kado dengan merk Mother Care segede persoalan keluarga Arumi Bachin*?", gw pilih opsi kedua. Bungkus! Dan gw pun melangkah riang dengan plastik besar yang didalamnya terdapat kado mahal yang cantik dan cute dan....oke, yang dibeli dari hasil patungan 4 orang.
Setelah menunaikan semua kewajiban hedon malam itu, akhirnya gw, Banu, Vio dan Aaf pulang naik taxi. Tepat sebelum gw memasuki pintu taxi, Vio, sekali lagi Vio, ngomong, "eh...itu kadonya taro di Bagasi aja, gede banget". Dan gw yang nggak pernah naro barang di bagasi karena takut barang ketinggalan ini, akhirnya naro barang di Bagasi. *Roiders memutar bola mata ke kiri, yang artinya: ahhh..ketebak ini ceritanya, (kalo ke kanan artinya,"ceritanya ini ketebak..ahh)*....Eittsss...nanti dulu...pasti lu mikir kadonya bakal ketinggalan di taxi...terus ilang selamanya. Hahaha. Salah! Makanya baca dulu! Nggak seperti itu!
Setelah perjalanan sejauh argo 60ribu (mentalitas orang miskin,segalanya dinilai dengan uang), akhirnya kami sampai di kediaman masing-masing. Kami pun mengucapkan terimakasih kepada Pak Supir lalu pulang dengan hati riang *Roiders berbisik, "eh..eh..kado di bagasi belum di ambil". Lalu gw dan Banu pun seperti biasa berdiskusi dengan hati riang di depan gang:
Gw: "Bung..ingat hukum Pascal yang mengatakan," Bila zat cair pada ruang tertutup diberi tekanan, maka tekanan akan diteruskan ke segala arah"
Banu: "hahaha..becanda Bung Roid ini. Tentu saja saya ingat"
------Di sini Roiders lagi-lagi berbisik, "sstt..eh..eh..kadonya masih di bagasi---
Gw: 'Iya. Itu ternyata dasar utama sahabat kita, Bung Tjokorda Raka Sukawati menciptakan teknik Sosrobahu. Wah..wah..saya tak menyangka. Cerdas juga beliau itu"
Banu: *muka panik* Mas...kadonya ketinggalan
Gw: "Ya dan hukum paskal....uhuk *keselek Buku Fisika Terbitan Erlangga yang dari tadi dijadiin naskah percakapan*...anjriiiittt...kejaaaarrrr taxinya. YA ALLAAAAH. Gimana ini!!
------- Roiders memutar bola mata 360 derajat----------------
Akhirnya kita ngejar pake angkot, "bang..ayo bang cepet Bang...kejar taxi di depan Bang...ada barang yang ketinggalan. YA ALLAH...gimana ini. Udah jauh lagi taxinya. Gak keliatan. Alhamdulillaah. Itu bang ada gemerlap lampu taxi di depan. Kejar Bang".
Tapi malang tak dapat diraih, untung tak dapat ditolak. Itu bukan taxi yang kita naiki tadi. Tu taxi udah lari entah kemana. Mungkin dia ngebut cepet-cepet begitu tau ada barang ketinggalan di bagasinya. Mungkin juga dia ngumpet di gang kaya jagoan menghindari kejaran polisi. Tapi yang pasti, kado buat Siska ada di situ. Hilang. Gak bakal balik ke kita. Hiks. Sedih banget.
Uang hilang sih gak masalah (Roiders memutar bola mata 90 derajat, "ya iyalah, patungan 4 orang") tapi kesenangan yang tadi kita rasakan karena sudah bisa membeli kado terbaik, jadi menguap. Yang ada kecewa. Lalu kita pulang ke kos dan kembali ke kamar masing-masing. Tetap sih, kita telpon perusahaan taxi itu, yang gak usahlah namanya kita kasih tau, pokoknya lawan kata Putri deh, tapi harapannya tipis lah kado itu bakal balik. Dan akhirnya malam itu kita tertidur sambil terisak-isak.
Roiders saling berbisik: "eh..eh..najis banget ya blogger ini. Maksudnya apa sih bilang barangnya gak bakal ketinggalan tadi? Biar terlihat beda ceritanya? Sok kreatif banget. Ih. Haram jadah deh. *Roider memutar bola mata 150 derajat*
Roid: Diam kamu pembaca yang kerjaannya memutar bola mata!
-------------------------- seminggu setelahnya---------------------------------
Gerandis ke Jakarta. Dan seperti biasa, kita maen bareng. Akhirnya kita iseng cari kado lagi ke Mother Care. Dan kado sofa-sofaan tadi masih ada dong di situ. Teronggok menantang. Bikin sakit hati. Dan harganya udah nggak diskon pula. Nggak mungkin banget beli itu lagi. Setelah milih-milih dan memberi contoh yang baik kepada anak-anak di toko mainan itu, salah satunya dengan cara seperti ini:
Vio maksa kita buat beli sofa itu lagi. Errr...mahal ya bo'. Tapi apa lacur? Kita telpon Kacrut di Surabaya, suruh dia ikut patungan. Yak. Dia mau. Sah! Sofa itu jadi kado kita lagi. (Roiders, kamu dapet faedah kan dari membaca blog ini. Salah satunya, kalau kekurangan uang patungan, tinggal telpon aja orang-orang di phonebook kamu. Iya..Sama-sama). Setelah minta lagi kertas kado bertuliskan Mother Care yang besar, akhirnya kita pulang dengan hati riang dan meletakkan lagi kado di dalam bagasi? Ah...tentu tidak Roiders. Kami kan bukan keledai. Lagipula, angkot mana punya bagasi. *Habis beli kado dua kali, ga ada duit buat bayar taxi lagi*
-------- di sini burung-burung bernyanyi, angin memainkan rambut hingga melambai-lambai dengan lembut. Mendekati Happy Ending---
Oh ya. Malam itu Gerandis, Inul, dan Nunu nginep di kamar gw dan Banu. Dan sebelum ke kos, kita mampir dulu di Indomaret membeli keperluan laki-laki. *Roiders berbisik-bisik,"eh..mana kadonya..pasti ketinggalan lagi..bego dasar ya"* Heiiii...aku dengar lho. Tenang. Ini kadonya! Taraaa *mengangkat kado ke arah langit-langit Indomaret*. Nggak mungkin dong kami lupa. Selain karena kami sudah belajar dari kesalahan, lagipula kami di sini berjumlah 5 orang! Masa nggak ada yang inget. Udah, ah...lanjut lagi cari keperluan laki-lakinya. *mengalihkan pandangan ke arah lelaki-lelaki yang sibuk memilih handuk warna-warni dan sempak, yang walaupun cuma satu merk GTman, tetep harus milih-milih*
Setelah selesai membeli keperluan laki-laki, kami pun pulang. Lalu membersihkan diri, bersiap untuk istirahat. Setelah semuanya selesai membersihkan diri, kita pun bersiap tidur dengan tenang. Tiba-tiba Nunu minta tetes mata ke gw. Karena gw bukan pemain sinetron, maka gw gak punya. Lalu dia pun pergi ke Indomaret. 15 menit kemudian dia kembali dengan membawa bungkusan besar. Yang ternyata bungkusan kado tadi, yang ternyata tertinggal di Indomaret tanpa satupun dari kita menyadari.
Sekian dan terimakasih.
*Roiders tidak diberi kesempatan untuk mencemooh*
Rabu, 10 November 2010
Kamis, 07 Oktober 2010
Tami from Tummy
Selasa malam, 5 Oktober 2010, seperti biasa gw bengong melototin timeline. Tiba-tiba ada tweet Siska:
Belum ada bukaan. Jadi masih belum pasti kontraksi ini mau lairan atau ada sebab lainnya. Doanya yah tweeps :)
What?? dia udah mau lahiran aja? Perasaan bulan ini baru 9 bulan deh. Cepet banget sih? Emang normalnya berapa bulan sih? Cepet-cepet gw cari buku biologi SMA gw. Dan hap! Langsung dapet. Emang biasanya gw naro buku biologi SMA di sebelah tempat tidur. Nggak bisa tidur gw kalo belum melafalkan nama-nama tulang di tubuh manusia. Oke. Cari di bagian reproduksi.Oke. Ini bagian reproduksi. Bolak-balik halaman. Cari di bagian kehamilan. Oke. Dapet. Cari di bagian jangka waktu kehamilan vertebrata. Oke Dapet. Bolak-balik. Reptilia. Bukan. Walaupun lidahnya setajam ular tapi Siska bukan reptil. Jelas. Next page. Primata. Oke. Oke. Nah..ini : "Masa kehamilan Gorila adalah 8-9 minggu". Shit. Berarti emang sekarang masa melahirkannya.
Keesokan paginya gw dan Vio menuju ke Rumah Sakit Sari Asih di kawasan art-chic di Manhattannya Indonesia, Kailedag (tulis: Ciledug). Tapi sebenernya kita tau keadaan Siska di sana dari twitter. Ya saudara-saudara. di tengah kesakitan yang sangat, orang ini masih sempat-sempatnya mengadakan live tweet. Ini contoh-contoh live tweetnya:
They moved me to the delivery room along with sepatu-boot-banjir, ember segede gaban... I guess this is gonna be veeery nasty folks...
Alhamdulillah, bukaan tigaaa... +eh masi lama ya sampe sepuluh?+
They just made me poop, and I managed to keep my miss-universe-smile while they shoved that thing in my ass. Wakakak...
Tweeps, maap ya kalo tar ga bisa reply atu2... Diantara kontraksi+livetweets tetep dibaca kok mention nya #sokarteis
Dan timeline gw jadi rusuh sama orang-orang yang nanya keadaannya dan nuntut dia buat live tweet. Ya mereka pikir ngelahirin itu cuma ngangkang terus a little cute crying doll keluar dari rahim terus habis itu si ibu tidur cantik dengan make-up yang terpasang sendiri dan rambut yang terblow secara ajaib kali ya. Gw kasih tau ya ke elo-elo semua *nunjuk laptop*, sebagai orang yang berada di lokasi kejadian, GUWE TAU BANGET (nunjuk dada, bayangkan cara ngomong Cinta ke Rangga, tp kali ini Cinta mempunyai jenggot dan cambang) kalo proses ngelahirin itu sakit .
Soalnya gw liat sendiri tampang Siska waktu sedang berjuang di ruang bersalin. GW LIAT SENDIRI. Betapa sakitnya dia berjuang. Mondar-mandir ruang bersalin. Tarik hembus nafas, berusaha mengurangi sakitnya kontraksi. Gw dan Vio yang mendampingi dengan setia (setia = gw maen hp di sudut ruangan sedang Vio meringkuk ketakutan ngeliat tampang Siska yang kaya singa betina lapar). Kami turut merasakan kesakitannya. Sedang Ficky (suami Siska) sebisa mungkin memenuhi permintaan Siska. Sedang gw sibuk merekam kejadian ini ke dalam memori gw. Gw bisa belajar dari adegan-adegan ini kalo nanti istri gw bakal ngelahirin:
1. Siska minta dianter ke kamar mandi, Ficky nganterin dan membantu jalan.
2. Siska minta tiduran, Ficky membantu menidurkan di sofa.
3. Siska minta panggil suster, Ficky manggil suster dengan tergopoh-gopoh.
Ya, adegan-adegan itulah yang nantinya harus gw contoh. Adegan-adegan itulah yang nantinya akan terjadi kalo istri gw bakal ngelahirin. Ya mungkin ada sedikit perbedaan, adegan2 yang dilakukan Siska, nanti gw yang akan melakukan. Adegan Ficky, istri gw yang lakuin.
Roid-yg-sedang-dalam-posisi-puncak-baik-dalam-keuangan-kesehatan-maupun-ketampanan : "Ma...Papa mau pipis. anterin. Takut"
Istri-Roid-yang-sedang-hamil-9-bulan-namun-sangat-mencintai-pangerannya-Roid-Taufan-
dan-Rela-Melakukan-Apa-Saja-Deminya:
(bangkit dari jongkok, kepala bayi sudah muncul) "iya Pa..sini mama papah"
---------- Penulis mati dijumroh pembaca wanita-------------
Tapi akhirnya, orang-orang di timeline itu ngerti juga kalo Siska gak bisa live-tweet setiap saat. Akhirnya mereka nyuruh kita buat live-tweet perkembangan Siska. HAH! Berarti memang cuma GW dan vio (why can't i make GW in font size 24 dan Vio in size 2?) yang jadi saksi kejadian penting ini. Tapi ya kita juga ga bisa di deket Siska terus-terusan. Dia kesakitan dan bilang sendiri kalo liat orang bawaannya pengen nyakar. Jadi setelah sekitar 10 menit di ruang bersalin, kita balik lagi ke kamar Siska. Ficky bilang kira-kira Siska bakal ngelahirin sekitar jam 3an. Berarti masih 3,5 jam lagi. Ya udah kita putuskan buat balik aja ke ruang inap Siska. Tapi tetep kita tweet kejadian-kejadian tadi: "siska udah bukaan 6. Kita balik lagi ke kamar karena tampang Siska menyeramkan,dll". Pokoknya kitalah harapan mereka untuk terus memantau perkembangan Siska. Jadi berasa mengadakan liputan khusus hari itu.
Sebagai pelengkap jurnalisme, foto sering digunakan oleh wartawan. Oleh karena itu, kita pun melengkapi liputan khusus Siska Beranak 2010 dengan foto-foto yang semakin mempertajam dan memperjelas isi liputan ini. Berikut foto-foto yang kita tweet (sebagian):
Ruang inap Siska. Tampak satu ranjang yang rapi dan terlihat nyaman untuk ditiduri
dengan kursi dan meja di dekatnya. (Redaksi ingin sekali menulis: Ruang inap Siska. Tampak
satu gelambir lemak yang menempel di perut dan terlihat nyaman bersarang di sana. Pemiliknya berusaha
menutupi dengan tangan, tapi tentu saja itu pekerjaan sia-sia)
Televisi 20" yang terletak di depan ranjang. Terdapat laci-laci kecil
yang bisa diisi Siska dengan perlengkapan-perlengkapan bayi. Foto ini redaksi rasa
cukup bagus karena fokus foto terletak pada televisi dan tidak ada objek-objek lain yang
mengganggu
Foto close up ranjang Siska. Ranjang terlihat nyaman dan bersih.
Foto ini redaksi rasa juga cukup bagus. Karena fokus pada objek utama, yaitu tempat tidur
dan menggambarkan betapa rapi dan teraturnya pengaturan seprai dan selimut.
Foto juga tidak terganggu oleh objek-objek lain.
Setelah puas melengkapi liputan kami dengan foto-foto, kami iseng-iseng balik lagi ke ruang persalinan. Padahal baru jam 12. Masih 3 jam lagi Siska beranak. Tapi daripada mati gaya di ruangan. Lagipula dua orang bukan muhrim yang berada dalam satu ruangan, pasti menimbulkan fitnah. Sempat kami lihat melalui teropong bintang dari jendela rumah sakit, Bu RT Vio di Malang mencibir.
Tapi begitu sampai di ruang bersalin, suster penjaga ruangan melarang kami masuk. "Loh, memangnya kenapa,Sus?". "Itu, anaknya baru lahir", jawab susternya ramah. "Dibersihin dulu ya, Ibunya". Lah? cepet banget brojolnya. Gw dan Vio langsung merasa tidak berguna. Kita malah sibuk berfoto-foto di dalam kamar Siska. Gak ada di sampingnya ketika dia berjuang melawan hidup dan mati. Kita juga mengecewakan orang-orang yang sudah berharap banyak. Bukannya ngetweet hal-hal berguna, kita malah ngetweet foto-foto menakutkan gw dan Vio. Tapi yah...sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Yang paling penting sekarang....Tami sudah datang!!! Yeaaaayyy!!!
Walaikumsalam cantik.....silahkan masuk ke dunia Mama, Papa, Om, dan Tante.......
Ini si cantik bersama Mamanya yang sedikit gendut dan sedang tidak cantik:
Dan ini si cantik bersama Mama dan Papanya. Si cantik memberikan senyum manis . Kecil-kecil udah bisa pose. Tampak selimut di belakang yang porak poranda seperti habis dipakai bercinta (redaksi berfikiran kotor dan tidak fokus)
Ah....selamat datang cantik di dunia kami. Untuk kamu, Om bikin puisi paling indah di dunia. Yang Om buat sendiri susah payah dengan darah, keringat dan air mata ikan duyung yang berkhasiat menyembuhkan segala macam penyakit. Ini untuk kamu cantik......
Hei..
Hei, mungil..
-----------> Ditabok pembuat puisi yang asli
Kamis, 02 September 2010
Flash Fiction (Bukan Merk Dildo)
“Ja..jangan”. Itu kalimat terakhir yang keluar dari bibir gadis itu. Setelahnya, tubuhnya menggelepar hebat. Sakit? Aku tak tahu. Yang jelas tubuhnya membiru, matanya membelalak, liukan-liukan vena yang terlihat seperti ratusan cacing yang merayap naik melawan gravitasi, terlihat jelas dari kulitnya. Ya kalian simpulkan saja sendiri,dia sedang kesakitan atau sedang menari kejang. Hihihi. Aku mengikik sendiri mendengar leluconku yang tak lucu.
Belum selesai kikikan kedua, si gadis sudah berdiri di hadapanku. Bibirnya menyungging senyum.”Hi, Viona”, ucapnya. “Hi, Siska”, jawabku. Lihat. Dia tahu namaku. Aku tahu namanya. Padahal semenit lalu kami berdua saling tak mengenal. Hal ini masih membuatku kagum. Bahkan di usiaku yang ke 105. Kami, para vampire,selalu tahu nama satu sama lain. Tiba-tiba. Caranya simple : Asing –> Bertemu –> Klik! –> Dua vampire kenal satu sama lain. Mengagumkan bukan?
“Aku lapar”,bisiknya. Perempuan ini. Baru semenit jadi vampire sudah lapar. “Oke,ayo kita cari makan di kantin”,kataku sambil tersenyum. “Kantin?”, tanyanya bingung. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Ku ajak dia ke bagian lebih dalam dari gudang tua ini. Sampai kami berdua tiba di satu tempat yang penuh tempat duduk dan etalase kaca. “Ini aku namakan kantin”,bisikku ke telinganya. “Kenapa?”,tanyanya. “Karena…di sini banyak makanan”, ucapku keras sambil melayang ke arah peti besar di sudut ruangan. Kubuka peti. “Kraaak”, deraknya bergema ke seluruh gudang. Lalu kuraih makanan.
Tanganku menyentuh makanan secara acak. Kuraih salah satu, kuangkat cepat dan kulempar ke arah Siska. “Ini saja buatmu.Tangkap!”. Siska menangkap dengan satu tangannya. Mendelik ke arah makanannya yang ternyata seorang gadis kecil. Air liurnya menetes, menjatuhi wajah sang gadis. Sang gadis menjerit-jerit ketakutan. Dan hap…dalam hitungan detik kepala sang gadis sudah terlepas dari tubuhnya, berpindah ke mulut Siska. Suara jeritan gadis kecil masih bergema. Kasihan. Dua bola mata bergulir, berhenti tepat di kakiku….
Arrggggh! Cerita yang buruk. Kuremas-remas kertas di tanganku. Mana mungkin ada hantu sekejam itu. Aku memang tak berbakat menulis. Tba-tiba perutku berbunyi. Lapar. Aku cari makan dulu saja. Segera aku lompat dari batang pohon yang sedari tadi aku duduki. Hap. Lalu kulempar remasan kertas. Wow..kertasnya tepat jatuh di atas kuburanku. Tinta darah menetes ke tanahnya yang basah. Aku melayang pergi.

